Demonstrasi Pembelajaran IPA

Siswa MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala sedang mendemonstrasikan produk pembelajaran dihadapan para pejabat Kemenag dari 20 Provinsi pada Kegiatan Konferensi Praktik Terbaik dalam Pembelajaran dan Manajemen Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI.

Pameran Pendidikan

Mendikbud Anies Baswedan mengunjungi Stand pameran produk Pembelajaran MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala pada kegiatan Pameran Pendidikan Tingkat Nasional di Jakarta.

Belajar diluar Kelas

Siswa MTs Al-Mukhtariyah Rajamandala sedang melakukan kegiatan belajar IPA tentang pertumbuhan dan perkembangan diluar kelas.

Monday, 22 January 2018

USWAH Training



*AKHIRNYA METODE PRAKTIS, MUDAH DAN SEDERHANA UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH IDEAL DAN UNGGULAN TERBONGKAR!!!*

Setelah sukses terselenggara di 2 kota, kini *"Training Membangun Sekolah Ideal dan Unggulan dengan Metode TOPS* segera hadir kembali.

Membangun sekolah menjadi ideal dan unggulan adalah hal yang diidam-idamkan para pengelola sekolah, khususnya pimpinan sekolah.

Selain skill dan pengalaman, dalam mengelola sekolah dibutuhkan juga metode yang tepat untuk membawa sekolah sesuai visi pendidikan. Tanpanya, kondisi sekolah akan begitu-begitu saja. Alih-alih menjadi ideal dan unggulan, sekolah justru jadi minim inovasi dan tidak adanya peningkatan kualitas.

USWAH Training Center siap menjadi mitra bagi para pengelola sekolah dalam mewujudkan sekolah ideal dan unggulan sesuai yang diimpikan dalam event spektakuler *"Training Membangun Sekolah Ideal dan Unggulan dengan Metode TOPS"*.

Jika Anda sedang mencari formula yang cocok untuk meningkatkan kualitas sekolah, maka training ini adalah jawabannya.

Dalam pelatihan ini, peserta akan diajak membongkar metode praktis, mudah dan sederhana dalam memimpin dan mengelola sekolah, yang disarikan dari pengalaman membina lebih dari 80 sekolah se-Indonesia.

Materi akan disampaikan secara sistematis dan _based on_ pengalaman yang dikemas dalam formula bernama Metode TOPS.

Training akan dipandu langsung oleh Zayd Sayfullah, trainer dan konsultan yang berpengalaman membina lebih dari 80 sekolah se-Indonesia.

Investasi untuk program ini bernilai Rp 10.000.000 (Training 4.000.000, konsultasi online pasca pelatihan 6.000.000). Spesial di awal tahun 2018 ini peserta cukup membayar 35% saja, yaitu Rp 3.500.000 untuk bisa mendapatkan manfaat besar kegiatan ini.

Eit, tunggu. Bagi yang mendaftar sebelum 25 Januari 2018, kami akan berikan tambahan diskon sebesar Rp 500.000. Tidak hanya itu, Bapak/Ibu akan mendapatkan CASHBACK sebesar Rp 1.000.000 untuk pendaftaran kolektif 5 orang. Kesempatan ini hanya berlaku sampai dengan tanggal 25 Januari 2018.

Mari belajar dan bertumbuh bersama USWAH Training Center dan wujudkan sekolah ideal dan unggulan yang Bapak/Ibu idamkan.

Sekali lagi, kesempatan ini terbatas. Maka kami sarankan untuk segera mendaftar sebelum kuota penuh.

Segera daftar di 👉 http://www.member.uswahtraining.com/Daftar/pelatihan-tops-94/

Informasi:

0812-8833-8840 atau 0896-3456-7211 (WA)

www.uswahtraining.com

Tuesday, 9 January 2018

Mengenal PNS dan ASN


Apa kabar sobat InformasiGuru semuanya? Kami sangat berharap Anda semua dalam keadaan sejahtera selalu. Pada kesempatan kali ini, kami menyajikan tulisan yang berjudul Apa Perbedaan PNS dan ASN?.


Sampai detik ini masih banyak pihak yang rancu dan masih saja salah dalam menggunakan istilah PNS dan ASN tersebut. Sebenarnya, di mana letak perbedaan yang mendasar pada kedua istilah itu? Agar kita memahami dengan gamblang, maka kita harus membuka Undang-undang (UU) Republik Indonesia No. 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Pada pasal 6 UU No 5 Tahun 2014 dinyatakan bahwa Pegawai ASN terdiri atas:

1.  PNS
2.  PPPK.

Hal yang bisa kita simpulkan dari pasal 6 UU no. 5 Tahun 2014 tersebut adalah bahwa setiap PNS adalah ASN, akan tetapi tidak setiap ASN adalah PNS. Agar kita lebih memahami makna ASN, PNS, dan PPPK secara gamblang dan benar, maka kita akan memakai penjelasan terhadap ketiga hal tersebut dengan berdasar pada pasal 1 UU No 5 tahun 2014, yakni:

Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah.Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai Pegawai ASNsecara tetap oleh pejabat pembina  kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.Pegawai Aparatur Sipil Negara (Pegawai ASN) adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan.

Sedangkan pada Pasal 7 UU No 5 Tahun 2014 diterangkan bahwa:
PNS merupakan Pegawai ASN yang diangkat sebagai pegawai tetap oleh Pejabat Pembina Kepegawaian dan memiliki nomor induk  pegawai secara nasional. PPPK merupakan Pegawai  ASN yang diangkat sebagai pegawai dengan perjanjian kerja oleh Pejabat Pembina Kepegawaian sesuai dengan kebutuhan Instansi Pemerintah dan ketentuan Undang-Undang ini.

Agar Anda mendapatkan informasi secara komprehensif terkait ASN tersebut, maka hal wajib yang dilakukan adalah dengan kembali membaca UU Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara.

Thursday, 4 January 2018

Seramnya Sekolah Jaman Dulu



Sejak SD, saya sudah mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan ketika belajar di Sekolah. Saya belajar seperti dibawah tekanan. Cubitan sampai dengan tamparan pernah saya saksikan, dan tak jarang penggarispun ikut melayang. Alasannya bukan karena nakal atau sudah melanggar aturan sekolah, tetapi karena tidak bisa setor hapalan dengan sempurna atau salah pada saat mengerjakan soal matematika.
Setiap mau berangkat sekolah, selalui dihantui rasa takut. Takut tidak bisa mengerjakan soal atau salah mengerjakan dalam mengerjakan PR. Entah berapa kali saya sempat menangis di sekolah. Terakhir kali menangis di sekolah ketika menginjak kelas 2 MTs/SMP, saat itu saya terlambat masuk kelas dan langsung kena marah disertai cubitan kecil tapi sangat kuat  di bagian perut ,sampai melintir, tanpa ditanya alasannya terlebih dahulu. Padahal waktu itu saya terlambat masuk kelas karena sebelumnya disuruh terlebih dahulu oleh guru yang lain. Yang membuat saya menangis bukanlah cubitan yang keras itu, tetapi perasaan hati ini yang bercampur antara malu dan kesal, karena tidak diberi kesempatan untuk membela diri terlebih dahulu. Inilah salah satu yang menguatkan saya untuk tidak mengikuti jejak  kedua orangtua saya menjadi seorang guru pada waktu itu.
 Saya yakin apa yang dilakukan oleh guru tersebut adalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada muridnya, agar menjadi anak yang pintar dan senantiasa disiplin sehingga kami semua bisa mengejar impian masing-masing. Pada waktu itu mungkin itulah cara yang paling efektif dalam mendidik anak. saat itu memberi hukuman secara fisik masih dianggap wajar dan belum ada istilah melanggar HAM.
Pembelajaranpun sepertinya tidak ada yang menyenangkan selain olahraga. Didalam kelas guru memaksa kami harus bisa menguasai semua pelajaran tetapi proses pembelajaran di kelas terkesan monoton apalagi kalau sudah belajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP), sepertinya guru di SD sampai dengan SMA waktu itu semuanya kompak, pelajaran PMP lebih banyak menyuruh siswa untuk menghafal, dan setiap minggu pasti di tes hapalan, mulai dari P4 sampai dengan Undang-undang. Ketika tidak hafal, maka siap-siaplah penggaris melayang. Sepertinya hampir tidak pernah tersentuh bagaimana proses pembelajaran itu dengan mengamalkan apa yang harus dihafalkan.
Dulu sempat berfikir, kenapa disaat guru  sedang mengajarkan tentang sungai, hutan, gunung, tumbuhan dan yang lainnya hanya cukup dengan mendengarkan ucapan guru atau kadang-kadang hanya melihat gambar saja. Kenapa untuk belajar tentang sungai, kami tidak dibawa ke pinggir sungai, belajar ekosistem sawah, kami tidak diajak ke sawah, belajar tentang jual beli, kami tidak disuruh ke pasar. Andai semua itu dilakukan, tentu saja kami akan merasa senang dan tentunya pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Namun zaman sekarang sudah berubah, seiring dengan perubahan sistem informasi dan teknologi yang begitu pesat. Maka guru pun harus bisa mengimbanginya. Metode dalam melakukan pembelajaran maupun pemberian hukuman harus berubah pula.
Kita sekarang hidup di era digital penuh dengan keterbukaan informasi. Bayangkan seandainya seorang guru masih memberikan hukuman yang sama seperti dulu. Orangtua sekaran berbeda dengan orang tua dulu. Orangtua jaman  dulu kalau anaknya melanggar dan mendapat tamparan dari guru kemudian anak mengadu ke bapaknya, maka bapaknya akan menerima bahkan tambah dimarahi. Tapi kalau jaman sekarang ada anaknya mengadu mendapat hukuman secara fisik, maka orangtuanya akan melapor ke polisi. Dan itu akan menjadi ekses yang buruk bagi guru dan dunia pendidikan.
Pembelajaran jaman dulu dengan metode seperti itu memang efektif dijamannya, buktinya banyak melahirkan orang-orang cerdas dan bisa sukses. Tapi ingat, jaman sudah berubah, kondisi siswa jaman dulu dengan sekarang tentulah berbeda. Kalau dulu cukup dengan metode ceramah saja, untuk sekarang sudah bukan jamannya lagi kalau hanya mengandalkan satu metode saja. Kalau jaman dulu fokusnya pada teacher center sekarang sudah jamannya student center.
Apabila kita bisa melaksanakan kegiatan yang menyenangkan bagi siswa di sekolah, mengapa kita harus tetap mempertahankan budaya lama yang sudah kurang tepat dilaksanakan saat ini?
Berangkat dari hal itulah, maka saya mencoba menulis untuk berbagi agar sekolah-sekolah saat ini melaksanakan kegiatan yang menyenangkan bagi siswanya.



Belajar Sambil Bermain



Belajar itu tidak boleh main-main, tidak boleh berisik. Itulah nasehat yang saya terima dari salah seorang guru ketika baru pertama kali mengajar di salah satu Sekolah Dasar dekat rumah tinggal saya, sebelum akhirnya saya tinggalkan setelah 7 bulan mengabdi disana, dan  pindah mengajar di sebuah madrasah setingkat SMP, yang kebetulan merupakan  almamater saya. Mungkin guru tersebut merasa terganggu, karena kebetulan pada saat itu saya bersama anak-anak sedang belajar mengenal angka dalam bahasa Inggris melalui permainan. Kegiatannya adalah ketika saya mengucapkan angka dalam bahasa inggris, maka anak-anak harus membentuk kelompok dengan jumlah siswa sesuai dengan angka yang saya sebutkan. Tentu saja karena mereka panik takut tidak masuk kelompok dan mendapatkan hukuman harus bernyayi didepan kelas, mereka akan sedikit gaduh. Belum lagi ada anak yang belum hafal angka dalam bahasa Inggris yang hanya terdiam saja dan menunggu dipanggil atau ditarik oleh temannya dalam kelompok yang kebetulan masih kekurangan anggota kelompok. Waktu itu yang saya pikirkan yang penting mereka senang dan mau belajar dengan saya.
Kegembiraan adalah hal yang harus kita utamakan dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk mendapatkan kegembiraan itu bisa kita dapatkan salah satunya  melalui permainan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang kita inginkan.
Memang benar. Belajar itu mesti serius. Tapi serius bukan berarti harus diam, harus kaku dan penuh larangan. Serius itu bukan berarti anak-anak harus duduk dengan rapi dan mendengarkan ceramah dari guru.
Sejumlah ahli pendidikan mengatakan bahwa ketika anak bermain, sebetulnya anak itu sedang mempelajari  banyak hal, dan dengan bermain juga bisa menumbuhkan sikap dan karakter. Maka sebaiknya dalam menyampaikan suatu materi dalam pelajaran  dengan cara meminta anak untuk bermain.
Melakukan proses pembelajaran dikombinasikan dengan permainan bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru, diperlukan sebuah konsep yang matang, agar permainan itu tidaklah sekedar bermain, tetapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dan tentunya sanagat diperlukan kemempuan guru untuk memilih materi yang bisa dilakukan melalui kegiatan bermain.
Aturan pemerintah ataupun undang-undang yang ada sekarang masih membelenggu kreatifitas guru dalam mengeksplorasi dirinya dan lingkungan dengan sebebas-bebasnya. Karena guru di sekolah masih terkendala dengan administrasi yang seabreg ditambah lagi dengan harus mengejar ketuntasan materi,bukan ketuntasan belajar. Ketika kita sudah fokus pada ketuntasan menyampaikan materi, maka kualitas pembelajaran kadang-kadang sering kita abaikan.
Cosby dan Sawyer menyatakan bahwa permainan secara langsung mempengaruhi seluruh area perkembangan anak dengan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar tentang dirinya, orang lain, dan lingkungannya. Permainan memberikan kebebasan untuk berimajinasi, menggali potensi diri atau bakat, dan untuk berkreativitas. Motivasi bermain anak-anak muncul dari dalam mereka sendiri; mereka bermainuntuk menikmati aktivitas mereka, untuk merasakan bahwa mereka mampu,dan untuk menyempurnakan apa saja yang telah ia dapat baik yang telah mereka ketahui sebelumnya atau hal-hal baru.
Apapun bentuk permainan yang kita sajikan kepada anak, hendaknya permainan itu bisa diikuti oleh seluruh siswa dan akan tambah seru apabila kita ikut terlibat didalamnya. Permainan itu sendiri bisa berupa permainan tradisional ataupun permainan masa kini. Ketika kita memilki materi yang tidak bisa dibuat dalam bentuk permainan, ya jangan dipaksakan juga, biarlah kita mengajar dengan alami.
Ada beberapa Kelebihan ketika  belajar sambil bermain dilakukan, antara lain: bisa membuat siswa jadi senang dan bersemangat dalam belajar, siswa belajar tanpa gangguan emosi negatif dan bergairah,  tiada tekanan karena proses bermain terjadi secara terbuka dan spontan,  berusaha untuk menang sehingga siswa termotivasi dan hal ini dapat memberi dampak kepada peningkatan hasil belajar, dan dapat membantu siswa mengingat konsep secara tidak langsung.
Berikut akan saya sajikan beberapa contoh permainan yang bisa digunakan dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran Biologi.
1.     Permainan Ular Tangga
Salah satu materi biologi yang diajarkan pada siswa kelas  melalui media permainan ular tangga (snakes and ladders) adalah materi organ pada hewan vertebrata.
Permainan ular tangga (snakes and ladders) ini menggunakan papan yang berupa ubin di dalam kelas dan pionnya adalah siswa.  Permainan ular tangga (snakes and ladders) dimulai pada angka satu dan berakhir pada angka dua puluh empat. Di dalam petak akan terdapat tulisan angka satu sampai dua puluh empat, dua belas Q (Question), tiga angka -5, tiga tangga dan tiga ular .Dan di meja guru terdapat dadu dan undian pertanyaan. Pertanyaan yang diberikan mengenai organ hewan vertebrata (telah dipelajari sebelumnya oleh siswa). Pertanyaan di berikan oleh guru, dan waktu untuk menjawab pertanyaan dari guru adalah tiga menit.  
Siswa dikelompokkan menjadi empat kelompok. Tiap kelompok akan mengirimkan satu anggotanya untuk menjadi pion dalam permainan ular tangga (snakes and ladders), sedangkan anggota kelompok lainnya yang akan melempar dadu, mengambil undian pertanyaan, dan bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan.
Apabila pion kelompok mengenai petak pertanyaan (17 Q, gambar 2), maka anggota kelompok tersebut mengambil undian pertanyaan dan bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan dari guru. Jika kelompok tersebut dapat menjawab pertanyaan yang diberikan guru dengan benar, maka kelompok tersebut akan diberikan nilai 100 dan apabila kelompok tersebut menjawab pertanyaan dengan salah maka pion kelompok akan mundur dua langkah.
Apabila pion kelompok mengenai ular (15 Q, gambar 2), maka anggota kelompok tersebut mengambil undian pertanyaan dan bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan dari guru. Jika kelompok tersebut dapat menjawab pertanyaan yang diberikan guru dengan benar, maka kelompok tersebut tetap diam di tempat dan apabila kelompok tersebut menjawab pertanyaan dengan salah maka pion kelompok akan menuruni ular sesuai dengan nomor yang telah disediakan (nomor 4, gambar 2).
Apabila pion kelompok mengenai tangga (13 Q, gambar 2), maka anggota kelompok tersebut mengambil undian pertanyaan dan bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan dari guru. Jika kelompok tersebut dapat menjawab pertanyaan yang diberikan guru dengan benar, maka kelompok tersebut akan menaiki tangga sesuai dengan nomor yang telah disediakan (nomor 4, gambar 2) dan apabila kelompok tersebut menjawab pertanyaan dengan salah maka pion kelompok tetap diam di tempat. Dan apabila pion kelompok mengenai amgka -5, maka kelompok tersebut langsung mendapatkan nilai min lima (-5).
Pemenang dalam permainan ular tangga (snakes and ladders) adalah kelompok yang telah mencapai finish terlebih dahulu. Tetapi, apabila waktu mata pelajaran (jam) telah selesai sebelum pion kelompok mencapai finish maka pemenang dalam permainan ular tangga (snakes and ladders) adalah kelompok yang mendapat nilai terbanyak. Dengan adanya permainan ular tangga (snakes and ladders), siswa kelas
2.     Bermain Kuartet untuk Menghafal Nama Ilmiah
Kegiatan pada proses pembelajaran ini bisa diawali dengan guru memberikan soal (pre-test) untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum mengikuti permainan, kemudian siswa disuruh bermain kuartet, setelah selesai bermain kuartet, guru kembali memberikan soal (post test) dan diakhiri dengan evaluasi bersama. 
Aturan Permainan :
·       Tiap kelompok minimal terdiri dari 4 orang
·       Tiap orang (pemain/murid) mendapat 5 buah kartu
·       Sisa kartu diletakkan ditengah
·       Pemain mengundi giliran (urutan) pemain
·       Jika seorang pemain meminta satu kartu dan ada (benar), dia boleh jalan lagi dan meminta kartu yang sejenis kepemain tadi atau pemain lainnya.
·       Jika seorang pemain meminta satu kartu dan tidak ada (salah), maka dia tidak boleh jalan lagi dan mengambil satu kartu ditengah.
·       Permainan berakhir ketika semua kartu ditangan semua pemain sudah habis.
·       Pemenang adalah yang mendapatkan kuartet terbanyak.
3.     ORAY-ORAYAN (=ular-ularan).
Permainan ORAY-ORAYAN ini adalah permainan yang sering dilakukan oleh anak-anak daerah Jawa Barat, yang dulu juga sering saya mainkan pada waktu saya duduk di Sekolah Dasar. Tapi pada permainan ORAY-ORAYAN ini sedikit di modifikasi sehingga permainanya sedikit berbeda.
Sedangkan Pelaksanaan Permainan ORAY-ORAYAN dilakukan dengan prosedur, sebagai berikut:
·           Seluruh Peserta didik berdiri membentuk lingkaran.
·           Guru pemandu berada di tengah untuk memantau pelaksanaan permainan.
·           Guru Pemandu menunjuk salah satu dari peserta didik dengan mengucapkan kata BIOLOGI, peserta yang ditunjuk harus menyebutkan kata yang berkaitan dengan materi biologi dari kelas VII sampai kelas IX (selain nama tumbuhan dan nama hewan). Kata yang disebutkan harus huruf awalnya adalah huruf terakhir yang disebutkan Oleh peserta sebelumnya (kata yang sudah disebutkan tidak boleh disebut ulang oleh peserta yang lain).
·           Waktu yang diberikan kepada setiap peserta adalah 7 detik.
·           Untuk memotivasi peserta didik, maka bagi yang salah menyebutkan atau kehabisan waktu maka peserta didik tersebut di beri tanda dengan menggunakan spidol Whiteboard.
·           Bagi yang telah mendapatkan dua kali coretan, maka peserta keluar dari lingkaran dan bagi yang berhasil sampai sepuluh besar, peserta didik mendapatkan nilai tertinggi.
Dalam pelaksanaannnya peserta didik termotivasi dan saling berlomba menjadi yang terbaik. Dari permainan ini juga Guru dapat menilai peserta didik secara individual.
4.     ABC Nama Ilmiah
Prosedur Diskripsi Mengenal hewan dan tumbuhan sangat penting dilakukan oleh anak-anak dalam pelajaran Biologi. Permainan ini untuk peserta 3,4,5 hingga tak terbatas. Tujuan Melatih kreatifitas dan menyampaikan hasil pengalaman dalam bentuk lisan. Prosedur
·           Siswa dibagi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-5 orang.
·           Guru kemudian memperlihatkan gambar hewan kemudian dihubungkan dengan memberikan penjelasan nama-nama hewan atau tumbuhan
·           Setiap kelompok menunjuk satu anggotanya untuk memimpin
·           Seluruh anggota termasuk pemimpinnya mengucapkan kata:’’soobyung”!Sambil meletakkan jari tangannya masing-masing dimeja/tmpt lain.boleh 1, 2/5 jari.
·           Sang pemimpin menunjuk jari-jari anggotanya sambil mengucapkan A,B,C,D dan seterusnya dg ketentuan satu jari satu huruf 6.Misal jumlah jari yang ada 10, maka jaruh hurufnya adalah huruf”M” misal: Mirabilis jalava, Musa paradisiaca, dll.
Tentu saja masih banyak permainan yang bisa dilakukan dalam pembelajaran, yang bisa membantu dalam mencapai tujuan pembelajaran seperti bermain monopoli, teka teki silang dll.
Selamat mencoba....

Friday, 17 November 2017

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik dan Model Pembelajaran

oleh: Akhmad Sudrajat

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran, (4) teknik pembelajaran, (5) taktik pembelajaran, dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan pengertian istilah – istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.
Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Strategi pembelajaran.
Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam Strategi Pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:
  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.
Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:
  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.
Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008).
Metode pembelajaran
Jadimetode pembelajaran di sini dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Teknik Pembelajaran
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Taktik Pembelajaran.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Model Pembelajaran
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Pendekatan Pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Teknik Pembelajaran, Taktik dan Model Pembelajaran
Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran.  Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.
==========
Sumber:
Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.
Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.
Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (hxxp://smacepiring.wordpress.com/)

Diambil dari: https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/
http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html